globalwarming awareness2007

Teriak ….

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah,  dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan  memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab  Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas.  Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi
nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang  anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara
di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu  menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerapterdengar, di sisi kiri dan  kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru  mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam  hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit  mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas  panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak  mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama.  Ahha…ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan
wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu  ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak  bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke  seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada  sang “jagoan, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu  sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu  bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu  terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru, “Coba kamu ceritakan  kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”.

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus  berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar  berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering  berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti  Ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan,  “..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran  yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua  sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa  bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka  pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku  mereka.

==========================

Setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah  peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar  untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan  berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita  bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang  merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka  perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela,di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi
bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap  setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak  ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk. Sebab, bukankah itu sama

artinya dengan menuding diri kita sendiri?”berteriaklah kepada anak-anak  kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka ketuslah
kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan  biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar  menciptakan seorang yang penuh dengki…”

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah  yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan?percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya,  dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka  belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan  air di gelas yang mereka pegang.  Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat
melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab, bukankah mereka baru  “belajar” memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita  telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisaseperti kita.

Teman, terima kasih telah membaca.H

Hope you are well and please do take care.

Salam hangat



Thank you for reading this post. You can now Leave A Comment (0) or Leave A Trackback.

Comments are closed.