globalwarming awareness2007

Cinta Sejati

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan
hangat yang muncul di
hati saya ketika bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun
dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya
mulai merasa lelah,
alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah
menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.

Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan.
Rasa sensitif-nya kurang.

Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
romantis
dalam pernikahan kami telah mementahkan semua
harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.
“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya
inginkan”
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan
komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,
padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria
yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya,
“Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah
pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan
pelan,

“Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat
menemukan jawabannya
di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:

“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah
yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.
Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan
memberikan jawabannya esok.”.

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya
menemukan selembar kertas dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu
untukmu, tetapi ijinkan
saya untuk menjelaskan alasannya.”.

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya.

Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya
dan akhirnya menangis di depan monitor,
saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa
membantumu dan memperbaiki programnya.”.

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah,
dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu,
dan membukakan pintu untukmu ketika kamu pulang.”.

“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat
baru yang kamu kunjungi,
saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan
mata saya untuk mengarahkanmu.”.

“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’datang setiap
bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
kakimu yang pegal.”.

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi
‘aneh’. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat
menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami hari ini.”.

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan
itu tidak baik
untuk
kesehatan matamu,
saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua
nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan
mencabuti
ubanmu.”.

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai,
menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah.
Menceritakanwarna-2 bunga yang
bersinar
dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga
itu untuk mati.
Karena saya tidak sanggup melihat air matamu
mengalir menangisi
kematianku.”.

“Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih
dari
saya mencintaimu.”.
“Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku,
mataku, tidak cukup bagimu.
Sayang, aku tidak bisa menahan dirimu mencari
tangan, kaki, dan mata
lain
yang dapat membahagiakanmu.”.

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi
kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya
kembali.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca
jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku
untuk
tinggal dirumah ini,
tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang
sedang berdiri disana
menunggu jawabanmu.”.

“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk
untuk membereskan
barang-barangku,
dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila
kau bahagia.”.

Saya segera berlari dan membuka pintu dan
melihatnya berdiri di
depan
pintu
dengan wajah penasaran
sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih
dari
dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
berangsur-angsur
hilang
dari hati kita
karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta
dalam wujud yang
kita
inginkan,

maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud
lain yang tidak
pernah
kita bayangkan
sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud
cinta dari
pasangan kita,
dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.

Best Regard,
Lita Maeka, S.Si, Apt



Thank you for reading this post. You can now Read Comment (1) or Leave A Trackback.

One Response to “Cinta Sejati



Leave a Reply

Note: Any comments are permitted only because the site owner is letting you post, and any comments will be removed for any reason at the absolute discretion of the site owner.

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image